Di tengah ekosistem hutan tropis Indonesia, terdapat satu spesies unggas yang menarik perhatian para peneliti dan pecinta satwa liar: ayam hutan hijau (Gallus varius).
Bukan sekadar ayam liar, melainkan salah satu dari dua spesies ayam hutan asli Indonesia, bersama dengan ayam hutan merah (Gallus gallus).Ā
Warna bulu hijau metaliknya yang berkilau dan suara kokoknya yang khas menjadikan spesies ini bagian penting dari keanekaragaman fauna Nusantara. Ayam ini juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang tak ternilai.Ā
Dari persilangan pejantan ayam hutan hijau dengan betina ayam kampung, lahirlah ayam bekisar. Suaranya yang merdu menjadikannya simbol keindahan alam sekaligus fauna identitas Provinsi Jawa Timur. Keistimewaan tersebut membuat ayam hutan hijau sering dijuluki sebagai āpermata dari hutan tropis Indonesiaā.
Ciri-Ciri Fisik Ayam Hutan Hijau
Berikut beberapa ciri yang bisa kamu lihat:
Ayam Jantan


Pejantan ayam hutan hijau tampil menonjol dengan tubuh ramping yang panjangnya mencapai sekitar 60 sentimeter dari paruh hingga ujung ekor. Bulu di leher dan tengkuk berwarna hijau berkilau dengan tepian kehitaman, menciptakan efek menyerupai sisik ikan.Ā
Sementara itu, bagian pinggulnya dihiasi bulu runcing berwarna keemasan dengan inti hitam yang kontras. Ekornya panjang, melengkung indah, dan berkilau kehijauan saat terkena cahaya matahari.
Ciri lain yang membedakannya adalah bentuk jengger merah bundar tanpa gerigi tajam, tidak seperti ayam hutan merah yang bergerigi. Di tengah jengger tampak semburat biru lembut yang menambah pesona eksotisnya.
Ayam Betina


Betina ayam hutan hijau berukuran lebih mungil, sekitar 42 sentimeter. Warna bulunya dominan cokelat kekuningan dengan pola garis serta bintik hitam yang berfungsi sebagai kamuflase alami di antara rerumputan.
Matanya beriris merah, paruhnya abu-abu keputihan, sementara kakinya berwarna kuning hingga kemerahan.
Suara Khas


Salah satu daya tarik utama unggas ini adalah kokoknya yang nyaring dan sedikit sengau. Ayam jantan biasanya memulai suara dengan cek-kreh, lalu diikuti rentetan nada cek-ki-kreh sebanyak 10 hingga 15 kali dengan jeda teratur.Ā
Kokok satu pejantan sering direspons oleh jantan lain di sekitarnya, menciptakan harmoni alami yang menggema di pagi dan sore hari. Betina, sebaliknya, memiliki suara lembut menyerupai ayam kampung yang berkotek menjelang keluar dari tempat berteduhnya.
Perbedaan dengan Ayam Hutan Merah


Dari segi ukuran dan warna, ayam hutan hijau lebih kecil dengan dominasi warna hijau metalik mengilap.
Sedangkan ayam hutan merah cenderung berwarna jingga keemasan. Selain itu, ayam hutan hijau hanya memiliki satu pial di bawah paruh, berbeda dari kerabatnya yang memiliki dua.
Habitat Asli dan Sebaran Endemik


Sebagai spesies endemik Indonesia, ayam hutan hijau secara alami hanya dijumpai di pulau Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Di Bali, jenis ini dikenal sebagai ayam hutan Bali, yang umumnya hidup di kawasan hutan kering terbuka di bagian barat pulau.Ā
Di Jawa Barat, mereka dapat bertahan hidup hingga ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut, sementara di Jawa Timur bisa mencapai 3.000 meter dan di Lombok sekitar 2.400 meter.
Ā
Habitat favoritnya adalah kawasan terbuka di pinggiran hutan, padang rumput, atau dataran rendah dekat pesisir pantai. Ayam ini hidup dalam kelompok kecil beranggotakan dua hingga tujuh ekor dan aktif di pagi serta sore hari. Ketika suhu siang meningkat, mereka berteduh di bawah pepohonan untuk menghindari panas.
Pada masa berkembang biak, ayam hutan hijau membuat sarang sederhana di atas tanah yang dilapisi rumput kering, umumnya tersembunyi di antara semak tinggi.
Musim kawin bervariasi tergantung wilayah, sekitar Oktober hingga November di Jawa Barat, dan Maret sampai Juli di Jawa Timur. Betina biasanya menghasilkan 3ā4 butir telur berwarna putih kusam.
Makanan Utama


Sebagai hewan omnivora, ayam hutan hijau mengonsumsi berbagai jenis makanan seperti biji-bijian, pucuk tanaman muda, daun segar, serta hewan kecil termasuk cacing, serangga, kadal kecil, dan laba-laba.
Ā
Menariknya, mereka juga gemar mengais kotoran hewan besar seperti kerbau atau sapi untuk mencari biji yang belum tercerna atau serangga yang hidup di sana.
Kebiasaan makan berkelompok menjadi bentuk pertahanan diri alami dari serangan predator. Menjelang malam, kelompok ayam ini akan beristirahat di atas pohon atau rumpun bambu pada ketinggian 1,5 hingga 4 meter untuk menghindari bahaya.
Fakta Unik


Salah satu hal paling menarik dari ayam hutan hijau adalah perannya sebagai nenek moyang ayam bekisar.
Persilangan antara jantan ayam hutan hijau dan betina ayam kampung menghasilkan jenis unggas baru dengan bulu menawan serta suara merdu. Keindahan tersebut membuat ayam bekisar dijadikan fauna identitas Jawa Timur.
Secara genetik, ayam hutan hijau menjadi penghubung antara kehidupan liar dan domestik. Meski keturunannya kini banyak dibudidayakan, populasi induknya di alam liar terus menurun karena maraknya perburuan dan kerusakan hutan.
Upaya Konservasi dan Status Perlindungan


Jumlah ayam hutan hijau di alam terus menyusut, terutama di pulau Jawa dan Bali. Faktor utama yang memengaruhi adalah perburuan ilegal serta menyempitnya habitat alami.
Ā
Melihat kondisi ini, sejumlah komunitas pecinta alam mulai bergerak untuk melakukan pelestarian. Salah satunya adalah Komunitas Pecinta Ayam Hutan Hijau Gunungkidul yang berdiri sejak tahun 2020.
Ā
Komunitas ini gencar mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga populasi, mengadakan kampanye anti-perburuan, hingga melakukan penangkaran dan pelepasliaran ke alam. Telur atau anak ayam yang ditemukan warga dibeli untuk ditetaskan, kemudian dilepas kembali setelah cukup dewasa.
Selain gerakan masyarakat, ayam hutan hijau juga telah dimasukkan dalam CITES Appendix II, artinya perdagangan internasionalnya dibatasi untuk menjaga keberlangsungan populasi.
Meski status konservasi global menurut IUCN masih tergolong Least Concern (Risiko Rendah), tren populasi di lapangan menunjukkan kecenderungan menurun.
Masa Hidup dan Kemampuan Terbang


Rata-rata usia hidup ayam hutan hijau di alam liar mencapai sekitar tujuh tahun. Mereka dikenal sangat gesit dan mahir terbang, berbeda dengan ayam peliharaan. Seekor individu dewasa dapat melompat vertikal hingga tujuh meter ke dahan pohon atau terbang horizontal sejauh beberapa ratus meter.
Ā
Beberapa peneliti bahkan menduga, ayam ini mampu menyeberangi laut sempit antarpulau. Anak ayam yang baru menetas sudah memiliki naluri alami untuk terbang demi menghindari ancaman. Kemampuan tersebut menjadi faktor penting dalam kelangsungan hidupnya di lingkungan liar yang penuh predator.
Pentingnya Pelestarian Ayam Hutan Hijau


Ayam hutan hijau bukan hanya bagian penting dari rantai ekosistem, tetapi juga menyimpan nilai budaya dan ilmiah yang tinggi. Di beberapa daerah, keberadaannya menjadi daya tarik ekowisata dan bahan penelitian keanekaragaman hayati. Melestarikannya berarti menjaga kekayaan alam dan identitas bangsa.
Sayangnya, masih banyak masyarakat yang lebih mengenal ayam hutan merah dibandingkan jenis hijau. Padahal, dari sisi keindahan bulu maupun perilaku sosial, ayam hutan hijau tidak kalah menawan.
Salah satu lokasi terbaik untuk melihatnya dari dekat adalah Bali Bird Park di Gianyar, yaitu sebuah taman konservasi yang menampilkan berbagai spesies unggas endemik, termasuk ayam hutan hijau Jawa dan ayam hutan Bali.
Hidup terbatas di Indonesia bagian barat hingga Nusa Tenggara, ayam hutan hijau menjadi cerminan eloknya alam dan keberagaman hayati Nusantara.
Dari warna bulunya yang menawan dan suara khasnya yang bergema di hutan, spesies ini menunjukkan pesonanya yang unik. Perannya sebagai leluhur ayam bekisar menjadi bukti nilai pentingnya bagi alam dan budaya Indonesia.
Menjaga keberadaan ayam hutan hijau berarti melestarikan warisan alam untuk generasi berikutnya. Jika kamu ingin menyaksikan keanggunannya secara langsung, kunjungi Bali Bird Park dan rasakan sendiri pesona unggas endemik yang menjadi kebanggaan Indonesia ini.










